Cirebon, yang harus dikunjungi

Pemandangan Jalan Siliwangi, salah satu jalan di Cirebon

Berbekal sedikit banyak cerita tentang Cirebon dari teman-teman, saya pun menyusuri kota ini. Sebuah kota kecil beriklim tropis, sepi, dengan masyarakatnya yang ramah. Inilah perjalanan Ceritakain, menyusuri jejak pengrajin-pengrajin kain. Cirebon adalah kota pertama yang dituju. 

Hari sudah hampir siang, ketika saya menginjakkan kaki di stasiun Cirebon yang letaknya ada di jalan Siliwangi. Tampaknya hujan menguyur kota ini sejak pagi, tapi gerah justru menyelimuti tubuh saya. Memang, hal yang wajar jika Cirebon lebih panas dari Jakarta, karena daerah ini letaknya di pesisir pantai.

Hal pertama yang menarik perhatian saya akan Cirebon adalah bangunan stasiun ini. Saya mengagumi gaya arsitekturnya yang kembali mengingatkan saya pada bangunan – bangunan zaman kolonial belanda yang memiliki gaya art deco. Kabarnya, stasiun ini memang dibangun pada zaman kolonial Belanda, di tahun 1920. Keluar dari stasiun ini, beragam transportasi seperti kendaraan umum, taksi, ojek motor,   tersedia untuk mengantarkan ke tempat tujuan. Saya sendiri memilih menggunakan becak, untuk menuju tempat penginapan, sehingga saya tidak melewatkan sedikitpun pemandangan di tiap-tiap sudut kota ini.

Cirebon memiliki kisah sendiri. Awalnya, kota ini hanya sebuah pelabuhan yang bernama Muara Jati, yang banyak disinggahi kapal asing. Seiring perkembangan, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi, mendirikan kerajaan yang dinamakan kerajaan Cirebon. Dari sebuah kerajaan ini, maka terciptalah perkembangan perkembangan kerajaan Islam, serta aktivitas niaga di pelabuhan Muara Jati yang berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

Di sekitar tahun 1680-an, dimulailah perubahan Cirebon dari kota pelabuhan menjadi agraris, karena adanya ekspansi Belanda.  Peninggalan pengaruh Belanda terlihat dari bangunan di kota ini. Tidak hanya stasiun, namun, sepanjang perjalanan saya ke penginapan pun, beberapa bangunan tempat tinggal, kantor pemerintahan, pasar dan toko memiliki sedikit banyak  gaya art deco.

Sepanjang jalan saya menuju penginapan bangunan gaya art deco pun tampak. Aksen-aksen berbentuk lengkung, langit-langit yang tinggi, serta jendela-jendela yang bergaya klasik, terlihat sangat tempo dulu. Memandangi bangunan-bangunan ini mengingatkan saya pada  bangunan di jalan Braga, Bandung, yang juga bekas peninggalan Belanda.

Selama 127 tahun Belanda menduduki kota ini dan memberikan budaya baru bagi tradisi masyarakat Cirebon yang juga telah dipengaruhi oleh budaya dari orang-orang Cina yang datang melalui jalur pelabuhan. Terpetik sudah benang merah, mengapa salah satu motif  batik di cirebon adalah motif batik kompeni Belanda dan Gadis Cina.

Sudut jalan pasar Kanoman

Menyusuri jalan di Cirebon, bisa dibilang mengurangi kepenatan saya akan kota Jakarta. Disini, jalan-jalan utama hanya diisi beberapa mobil pribadi dan angkutan dalam kota. Siang hari lalu lintas seperti layaknya pukul 05.30 pagi di Jakarta, lumayan ramai, hanya dilewati beberapa kendaraan saja. Menjelang pukul 18 sore, jalanan lebih  sepi lagi. Rata-rata toko tutup pukul 18-18.30 sore, tapi jangan kuatir, karena di malam hari banyak tenda makanan yang buka dan laris disinggahi.

Pemandangan sepi hampir di tiap jalan

Bagi saya kota ini sangat spesial, karena diam-diam memiliki budaya yang menarik untuk dijelajahi. Tidak hanya cerita tentang 4 keraton yang ada kota ini,  kisah para wali, makam sunan gunung jati yang langganan dikunjungi orang banyak ketika berkunjung kesini dan kulinernya yang luar biasa banyak. Tapi, dari hal-hal kecil, misalnya saja, kebanyakan dari orang cirebon pada malam hari senang menikmati kuliner yang berada di sudut-sudut jalan, memiliki bahasa pengantar yang unik — gabungan bahasa jawa dan sunda serta tak lupa tentang budaya membatik yang terpusat pada dua desa, sejak abad ke 14.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s