icip-icip di Cirebon

Sempat bertanya dengan warga setempat soal kuliner andalan di kota Cirebon, mereka pun kebinggungan menjawab,  karena begitu banyak pilihan jajanan. Sebut saja: nasi jamblang, nasi lengko, udang bakar, empal gentong, bubur sop, putu pisang, tahu gejrot, dan masih banyak lagi yang bisa menjadi pilihan para penikmat kuliner.

“Lho, mba’e sukanya makanan opo toh?”, tanya salah seorang warga asli Cirebon, yang menaiki angkutan umum yang sama dengan saya. Teringat, salah satu makanan rekomendasi teman saya dari Jakarta, yaitu Empal Gentong, saya pun bertanya padanya dimana tempat menjual Empal Gentong yang enak. Rupanya, Empal Gentong yang enak tak jauh dari hotel saya di kawasan Dr. Wahidin, dengan berjalan kaki selama 10 menit saya pun menemukan Empal Gentong “Mang Darma”, di Jl. Slamet Riyadi.

Empal gentong, Mang Darma

Wah, warung empal gentong “Mang Darma” ini bisa dibilang sangat legendaris, dengan andalan rasa gurih dan empal sapi yang teksturnya empuk saat dikunyah. Empal Gentong ini mirip sekali dengan masakan soto daging atau gulai, tapi, jelas rasanya berbeda. Dalam penyajiannya, satu paket empal gentong ini dilengkapi dengan sepiring nasi dan sepiring kerupuk kulit, bagi saya, adanya kerupuk kulit ini benar-benar perpaduan yang pas. Tak sampai 10 menit, saya pun menghabiskan empal gentong yang super uenak!

Kerupuk kulit penambah selera

Mang Darma memulai usahanya sejak tahun 1948, resep ini adalah resep andalan keluarga Mang Darma sendiri, dengan bahan dasar empal sapi, yang dimasak dengan menggunakan gentong selama 10 jam. untuk disajikan ke pengunjung, daging dipotong kecil-kecil, dan disiarm dengan kuah panas, dan ditaburi dengan daun bawang dan bawang goreng. Mang Darma, menghargai satu paket empal gentong ini dengan harga 15 ribu rupiah dan warungnya ini juga terdapat di stasiun kereta Cirebon. Di jalan Slamet Riyadi ini, baru pukul 14.00 siang warung Mang Darma terpaksa tutup, karena persediaan empal gentongnya habis.

Saya sempat menyesal tidak sempat mencoba Mie Koclok dan Bubur Sop. Tapi, untungnya saya tidak melewatkan nasi lengko, yang katanya mirip dengan ketoprak. Pak Dirman, penarik becak yang telah menarik besi tuanya ini selama 50 tahun lebih, sedikit memaksa saya untuk mencicipi nasi lengko di jalan Pagongan.

Nasi Lengko + Sate Kambing

Warung nasi lengko ini kabarnya sudah berdiri sejak tahun 1967 dan diteruskan oleh anaknya, ibu Yayah Rukiyah dan H. Barno sejak tahun 1987. Sempat binggung mengapa ada sate kambing di sebelah gerobak nasi lengko ini, ternyata, pelanggan biasa menikmati nasi lengko ini dengan lauk sate kambing.

Campuran toge segar dan tahu hangat, nikmat!

Mentimun di iris kecil-kecil, toge segar, daun bawang, tahu dan tempe yang telah dipotong dadu, diletakkan diatas nasi panas, kemudian disiram dengan bumbu kacang dan ditambahkan dengan bawang goreng dan daun kucai. Tadinya saya pikir rasanya akan mirip saat saya makan ketoprak atau nasi pecel, tapi terbukti berbeda. Rasa manis bercampur asin yang lezat meresap di lidah saya, apalagi jika ditambahkan sate kambing yang empuk khas warung ini.

satu Nasi Lengko hanya tujuh ribu rupiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s