Tradisi dan cinta Errah

“Baginya tak ada lagi yang bisa dilakukan dalam hidupnya selain membatik, bukan karena ia tak mampu tapi karena ia tak sanggup menahan begitu banyaknya motif-motif batik di dalam kepalanya yang siap ia tulis dalam selembar kain.”

Perjalanan saya menjelang sore di sebuah perkampungan di Cirebon, mempertemukan saya pada seorang pengrajin batik bernama Ibu Errah. Meski ini kali pertama kami berjumpa, saya disuguhi senyuman hangat dan keramahan yang luar biasa. Sambil menikmati bubur merah putih yang dibuat sendiri olehnya, saya  pun dihadiahi cerita tentang dirinya dan motif batik yang diciptakannya.

Meski usianya telah menginjak 60 tahun, telah memiliki banyak cucu, ibu Errah masih terlihat muda. Saat menemui saya, beliau sedang membatik, memakai kaus yang sebenarnya berwarna putih tapi telah berwarna warni karena tak sengaja terkena pewarna batik.

Sepanjang hidupnya ibu Errah mengenal seni membatik. Baginya tak ada lagi yang bisa dilakukan dalam hidupnya selain membatik, bukan karena ia tak mampu tapi karena ia tak sanggup menahan begitu banyaknya motif-motif batik di dalam kepalanya yang siap ia tulis dalam selembar kain. “Yang saya pikirin setiap malam cuma motif-motif ini mba,” ujarnya, tidak heran jika ia mengatakan, membatik bisa menghabiskan waktu sampai 24 jam setiap harinya.

Pada dirinya pun telah melekat tradisi cirebon, maka karya batik tulis yang dihasilkan pun di dasarkan pada motif-motif tua batik cirebon, salah satunya yaitu motif mega mendung. Tapi dengan kreatifitas, beliau memadukan motif tersebut dengan motif binatang, seperti kupu-kupu yang ditambahkan aksen garis, kemudian ia menorehkan motif tersebut diatas kain dengan warna-warna terang khas batik cirebon. Ibu Errah mengakui bahwa dirinya harus terus menciptakan ide dan kreatifitas, agar karyanya bisa berkembang mengikuti zaman.

Dalam pengerjaan pembuatan batik, ibu Errah dibantu oleh beberapa karyawan lepas, suami dan anak-anaknya. Salah satu anaknya, yaitu Broto, rupanya memiliki bakat yang sama dengan ibu Errah, yaitu mencipta berbagai motif batik. “Berbagai macam motif batik bisa diciptakan, dengan sangat mudah, salah satu inspirasinya bisa dengan melihat karakter orang yang akan memakainya dan kemudian dipadukan dengan unsur tradisional,” ungkap Broto, yang pada hari itu menghadiahi saya sebuah motif kain yang didasarkan atas karakter saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s