Nafas batik di Pekalongan

Jika tidak di musim hujan, sungai-sungai yang mengalir di daerah Pekalongan berubah warna menjadi hitam. Miris memang, karena sampai saat ini pemerintah belum bisa mengatasi masalah limbah batik. Tapi,  dari situlah tercermin bagaimana industri batik di Pekalongan “mengebul”. Selama 5 jam perjalanan menggunakan kereta api, sampailah saya di kota kecil yang letaknya ada di jalur pantura pulau Jawa ini. Pekalongan yang kini disebut-sebut sebagai kota industri batik, sebenarnya, telah sejak dahulu punya sejarah sebagai salah satu kota industri batik di Indonesia.

Adanya pelabuhan di Pekalongan sejak abad 18, tak hanya berperan sebagai jalur perdagangan tetapi juga sebagai penggerak sentra kerajinan batik. Banyaknya pedagang dari luar Pekalongan dan Indonesia yang tertarik pada batik, membuat batik makin  kian diminati dan akhirnya, menjadikan batik sebagai sektor industri. Tak heran yang tadinya sentra batik hanya ada di jalan Surabaya, kini, Pekalongan memiliki lebih dari 4 desa penghasil batik, diantaranya yaitu, desa kemplong, wiradesa, kauman, pesindon dan lambung sari.

Kini, sudah bisa terlihat bagaimana batik menjadi sebuah industri di Pekalongan. Di setiap desa batik, kebanyakan pengrajin telah mempunyai toko/showroom di depan rumahnya. Bahkan banyak  yang mengawali dari industri rumahan dan berkembang menjadi industri besar dan secara massal memproduksi batik untuk di ekspor keluar negeri. Para pembatik industri rumahan pun telah memproduksi batik dengan skala besar. Masyarakat Pekalongan yang dulu menggantungkan hidupnya di sektor pertanian dan bekerja menjadi nelayan, kini, hidup mereka bergantung pada selembar kain yang mereka kreasikan menjadi sebuah kain batik yang memiliki nilai.

Menggeliatnya industri batik di kota ini pun menjadikan sungai-sungai yang ada di pekalongan seperti sungai Bremi, berwarna hitam. Jika tidak sedang di musim penghujan, bisa terlihat, sungai-sungai di Pekalongan berubah warna menjadi keruh, karena tercampuri limbah pembuatan batik.

Tampaknya, pemerintah daerah belum serius untuk mengatasi masalah limbah batik. Meski hingga saat ini pemerintah Pekalongan keras menerapkan peraturan bahwa pembuatan batik hanya boleh dilakukan di desa-desa batik yang telah ditentukan. Namun tetap saja, limbah pabrik batik semakin meningkat, tak hanya membuat sungai berwarna hitam pekat, tapi juga berbau. Ini adalah tantangan bagi pemerintah untuk bisa menyeimbangkan peningkatan industri batik serta keberlangsungan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s