Berburu megono dan garang asem Pekalongan

Ini adalah perjalanan kedua saya di bulan Januari 2012. Masih traveling sendirian dan masih penasaran dengan batik pesisir di ranah Jawa ini, hal itu pula yang membawa saya ke kota kecil yang terkenal dengan batik Pekalongannya. Sebenarnya untuk sampai ke kota ini, sangat mudah menggunakan mobil dan kereta, tapi saya memilih untuk naik kereta pagi hari, jadi, saya bisa  sampai di Pekalongan siang hari.

Di stasiun Pekalongan yang kecil, sejak dari tadi saya telah dijemput dengan pihak hotel. Tentu ini mempermudah saya yang baru pertama kali datang ke Pekalongan. Sebenarnya di stasiun banyak taksi, tapi, perlu berhati-hati mengenai tarifnya. menurut informasi yang saya dapat, untuk berkeliling di seluruh kota Pekalongan saja, hanya merogoh kocek 30 ribu rupiah. Tapi kadang supir taksi suka menaikan harga yang berlebihan. informasi ini saya dapat dari petugas hotel.

Saya menginap di salah satu hotel di daerah Wiradesa. Jaraknya sekitar 10 menit dari kota Pekalongan. Saya beruntung menginap disini, karena dengar-dengar, di sekitar Wiradesa, ada warung sate yang super enak bernama “Warung Barokah”. Dengan membayar Rp. 5 ribu rupiah saja, menaiki becak, saya kemudian diantarkan ke “Warung Barokah.”

Sate kambing, sego megono dan es jeruk, Barokah

Saya pesan sate kambing dan tentu saja, nasi yang sejak lama ingin saya cicipi, yaitu, sego megono. Sego Megono, salah satu makanan yang dikenal disini, nasi yang dicampur dengan cacahan buah nangka, parutan kelapa, ikan teri, yang kemudian terciptalah rasa nasi yang gurih. Tidak hanya di rumah makan ini, tapi di tiap sudut jalan di Pekalongan, pasti menemui sego megono. Sate kambing yang saya pesan pun tak kalah juara, empuk, berbumbu khas warung ini, dan wanginya sedap sekali. Di warung ini, juga ada ayam bakar yang tak kalah enaknya.

Dengan kain batik, warna cerah khas batik pesisir

Sangking enaknya, saya mengunjungi warung ini dua kali. Pelayan yang menggunakan kain batik berwarna kemerahan ini rupanya mengingat saya. “Mau yang seperti kemarin mba?,” tanyanya, saya pun mengangguk senang. Warung Makan ini rupanya sudah terkenal sejak 1978, pelanggannya pun bermacam-macam, dari penarik becak sampai yang bermobil mewah.

Garang asem, Masduki

Saya juga menyicipi garang asem. Garang asam yang memang makanan jawa ini, rasanya memang tak asing di lidah saya. Saya mencicipi garang asem Masduki, di alun-alun pekalongan. Mencicipi kuahnya, maka rasa manis kecap bercampur bumbu merica, lengkuas, kluwek, bawang, membuat segar di lidah. Ditambah dagingnya yang empuk. Sungguh enak. Garang asem ini pun bisa dengan mudah ditemui di Pekalongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s