Bangkalan yang terlewat. Kejutan di Pamekasan

Jika memasuki pulau Madura, maka, kabupaten Bangkalan-lah yang menyambut Anda pertama kali. Di sepanjang jalan ini selain disuguhi pemandangan alamnya, beberapa toko kecil dengan tatanan sederhana bertuliskan “Batik Tulis Bangkalan – Tanjung Bumi” membuat rasa penasaran saya.

Jumlah toko batik di Madura jauh lebih sedikit dibandingkan dengan toko batik yang ada di Pekalongan atau Cirebon. Bahkan jika saya hitung, saya hanya mendapati sekitar 7 toko batik tulis disepanjang perjalanan saya menuju kabupaten Pamekasan. Tapi, jika menyusuri ke dalam kabupaten Bangkalan, katanya, tercatat terdapat sekitar 530 unit usaha batik di daerah ini. Dan biasanya wisatawan yang berkunjung disini mencari batik di Bangkalan.

Kabupaten Bangkalan terkenal dengan batik tulis Tanjung Bumi. Tanjung Bumi adalah sebuah kecamatan di Bangkalan, yang memproduksi batik gentongan yang pengerjaannya menghabiskan waktu berbulan-bulan dan di rendam selama 6 minggu di dalam gentong. Sayangnya, trip saya kali ini terbagi untuk 4 daerah saja, waktu yang saya punya pun hanya 1 minggu untuk menjelajahi daerah-daerah tersebut. Jadi di Madura, saya hanya sempat mendatangi kabupaten Pamekasan. Di Pamekasan inilah tercatat paling banyak pembatiknya, dibandingkan daerah Bangkalan dan Sumenep.

Sampai di terminal Pamekasan, saya langsung menuju hotel menggunakan ojek. Disini transportasi sangat sulit, angkot tidak ada, yang ada bis-bis besar, itupun jarang sekali lewat. Jangan berharap ada taksi disini, biasanya warga menggunakan ojek atau becak. Dusun toket, kecamatan Proppo adalah daerah yang terkenal dengan pembatik tulisnya. Baru sampai di hotel, tak lama pun saya langsung menuju desa tersebut. Ojek adalah transportasi yang paling available untuk menyusuri desa-desa terpencil yang tidak bisa dilalui mobil.

Terkejutnya saya, ketika tahu bahwa di desa ini justru yang menghasilkan batik untuk dibawa ke Tanjung Bumi, Bangkalan. Saya sungguh beruntung datang ke Pamekasan, sahut saya dalam hati yang sempat menyesal ketika tahu bahwa waktu 1 hari setengah ini, tak akan membawa saya ke Bangkalan. Tunggu lanjutan cerita saya ya, tentang hal tersebut dan kisah pengrajin di desa Toket-Proppo, dipostingan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s