Potraits from desa Toket, Madura.

Pemandangan menuju desa toket

Salah seorang anak mengisi waktu luang dengan memberi warna pada kain.

Masing-masing kain disampirkan pada baskom untuk memudahkan pekerjaan memberi warna/menyolet.

Tidak selalu serius, terkadang canda menyelingi waktu mereka.

Menjemur kain yang masih harus melalui beberapa tahap pengerjaan lagi.

Sebuah desa di Pamekasan, bernama desa toket, jauh seperti yang saya bayangkan. Desa yang terkenal penghasil batik di Pamekasan ini, dalam bayangan saya memiliki akses jalan yang mudah, nyatanya,  menuju ke desa ini saya harus menaiki motor karena jalannya yang kecil.

Di Madura, menyusuri setiap jalannya,  dari satu dusun ke dusun yang lain jaraknya berjauhan. Bahkan beberapa rumah ada yang  jaraknya berjauhan. Terkenalnya desa ini sebagai penghasil batik, saya pikir telah banyak dikunjungi orang di luar Madura. Tapi nyatanya, kedatangan saya pun menjadi perhatian.

Di desa ini saya diantar ke rumah bapak Haji Faisal. Bapak Faisal adalah salah satu pengrajin batik di Pamekasan. Seperti kebanyakan pembatik, keahlian berbisnis ini didapatnya turun temurun. “Jika nggak suka dan cinta dengan batik, jangan harap bisa terus neruskan usaha ini,” ujarnya. Di salah satu petak rumahnya, beliau memiliki workshop batik. Workshop ini, telah ada sejak orang tuanya masih berbisnis ini. Puluhan tahun, begitu katanya saat ditanya berapa usia workshopnya.

Masuk ke dalamnya, saya dikagetkan dengan pemandangan anak-anak laki-laki yang sedang menyolet (memberi warna pada batik). Wah, pemandangan yang tidak biasa bahkan saya tidak pernah bertemu, anak-anak yang masih duduk di bangku awal menengah pertama ini menyolet. Menyolet pada kain batik adalah kegiatan mereka setelah pulang sekolah. Dari siang hari seusai sekolah mereka datang dan pulang pada pukul 16.00. Bagi mereka, kegiatan ini sungguh menghasilkan, daripada mereka membuat waktu dengan bermain.

Upahnya pun lumayan. Satu orang anak bisa mendapat upah Rp. 300 ribu selama satu bulan. Salah satu diantaranya mengaku senang karena bisa menambah uang jajan atau membantu orang tua mereka membayar sekolah. Dengan penasaran saya bertanya pada salah seorang diantara mereka, jadi ini dari kecil sudah bisa menyolet? dengan tertawa malu salah satu mengatakan bahwa kebiasaan ini diajarkan oleh Bapak Faisal dan istri. “Hm, lalu, juga bisa membatik nggak nih?”, salah satu yang lain mengatakan, “membatik adalah pekerjaan wanita” ungkapnya malu-malu. Ya, menurut adik-adik ini, membatik hanya bisa dilakukan oleh wanita, karena dengan tangan wanita lah goresan-goresan malam tersebut bisa menghasilkan motif yang halus dan indah. “Tangan pria jauh lebih kaku,” ungkap mereka.

Saya diapit istri bapak faisal (kiri) dan keponakannya (kanan)

One thought on “Potraits from desa Toket, Madura.

  1. Pingback: Toket Terbesar di Dunia? | thewindblowin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s