Merasai budaya & batik lewat Sigit Witjaksono.

Beberapa hari sebelum bertolak ke Lasem, saya berharap bisa bertemu Sigit Witjaksono. Sosok yang belakangan saya kenal lewat hasil googling!  Tidak hanya penasaran dengan cerita perjuangannya berdiri diatas guratan-guratan indah batik Lasem, berjuang melestarikannya di tengah zaman yang makin melupakan budaya dan hasil tangan negerinya sendiri, tetapi juga, kisah kehidupannya sebagai seorang Tionghoa di tengah Jawa. 

 

Beruntungnya, teman baru saya selain mengajak saya mengunjungi klenteng-klenteng tua, mencicipi makanan dan memperkenalkan budaya masyarakat Lasem. Nama Sigit WItjaksono pun ada di dalam listnya. “Afra harus kenal dengan Hoakiao dari Lasem yang satu ini,” ungkapnya. Hoakiao adalah istilah untuk China perantauan. Dalam hati saya tersenyum.

Datang ke rumahnya, tentu saja saya disambut dengan bangunan arsitektur China. Salah satu kursi malasnya beralaskan kain batik motif klasik berwarna ungu yang njelimet desainnya. Sambil menebak-nebak cara membuat desain kain tersebut, salah seorang teman baru saya, mengatakan bahwa motif itu tak lagi diproduksi. Sayang sekali, padahal indahnya luar biasa, dan mungkin jika dibuat sekarang harganya bisa mahal luar biasa, hehe.

Bertemu Sigit Witjaksono, pria usia 83 tahun ini masih tegap, sehat, dan suaranya waktu berbicara masih lantang, meski pendengaran beliau sedikit terganggu karena faktor usia. Sirup berwarna pink yang rasanya luar biasa nikmat disunguhkan untuk menemani saya bertemu beliau. Sosoknya bisa saya katakan lebih “njawani” daripada orang Jawa, kepribadiannya dibungkus dengan tata krama yang tinggi, saya disambutnya dengan luar biasa baik, bahkan saya dipersilahkan mendelik ke dalam rumahnya yang juga merupakan workshop batik.

Ia bercerita pada saya, Ayahnya Njo Wat Djiang yang telah meninggal adalah pengusaha batik. “Jika saya tidak kena sakit radang selaput otak, mungkin saya nggak akan mengurusi batik Lasem tapi jadi seorang ahli hukum,” ungkapnya sambil tertawa. “Saya waktu itu tengah skripsi di Fak. Hukum Universitas Airlangga, saat itu saya terkena radang selaput otak sehingga saya harus drop out saat akhir kuliah,” tambahnya. Sigit, yang sempat terjun di dunia pendidikan di Surabaya, tergerak kembali ke Lasem untuk meneruskan usaha batik Ayahnya.

Beliau mengatakan pada saya, batik lasem pernah mengalami masa kejayaan di abad XIX hingga tahun 1940, sampai-sampai  di masa kejayaan sampai tahun 1970an diperkirakan sebagian besar wanita di Lasem berprofesi sebagai pembatik. Meski saat ini keberadaannya tenggelam, dan pembatik wanita hanya tersisa 5% saja, batik Lasem tetap memiliki penggemarnya.

Ciri khas batik lasem yang berwarna merah, dan motif-motifnya yang terlihat rumit dikatakan ciri khas yang konservatif tradisional. Tidak ada desainer khusus yang membuat motif dan coraknya, batik ini indah karena pengalaman. Sigit mengatakan, para pembatik disini rata-rata telah bekerja sejak dirinya masih kecil. Banyak sekali anak-anak muda yang enggan menjadi pembatik, dan memilih bekerja di luar kota. Lasem akhirnya menjadi kota mati.

Di sela-sela berbicara soal batik, ia menyelipkan cerita tentang istrinya yang kini meneruskan usaha batiknya. “Saya menikahi seorang wanita Jawa, dia cantik sekali, tapi sekarang beliau sedang istirahat, jadi maafkan tidak bisa bertemu.” Dahulu, perkawinan Tionghoa dan Jawa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tetapi beliau berjuang agar pernikahannya dilakukan resmi di catatan sipil. “wah mba, dulu ndak ada yang datang ke perkawinan saya. Tapi dengan menikah dengan wanita Jawa, disitulah disitulah saya belajar mengenal tentang budaya Jawa termasuk batik,” ungkapnya.

“Saya makin lama semakin tua mba, jadi sekarang yang menjalani urusan batik adalah istri saya,” katanya sambil guyon. Ditanya setelah ini siapa yang akan meneruskan usahanya, beliau tersenyum, “belum ada yang berminat dari anak-anakku, semoga saja salah satu cucuku berminat,” ungkapnya lagi. Bagi Njo Tjoen Hian (nama Tionghoanya) yang memiliki arti kebaikan dan kebijaksanaan, batik lasem bukan sekedar urusan bisnis, tetapi adalah saksi sejarah tentang pembauran budaya yang tidak boleh hilang, ungkap Sigit yang pernah juga bermain di film Ca Bau Kan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s