Gurihnya Lontong Tuyuhan

Sebenarnya banyak sekali kuliner khas di kota Lasem-Rembang, sate srepeh, nasi tahu dan lain-lain. Dan ketika  pertama kali saya menginjakkan kaki disini, saya sudah mencoba asem-asem khas pati di salah satu terminal Lasem *yang juga sering dimasak ibu saya di rumah*. Namun, siang itu, teman baru saya mas Agus dan mas Danang, mengajak saya mencicipi sepiring lontong opor ayam.

Disebut lontong Tuyuhan karena pembuat dan penjualnya berasal dari desa Tuyuhan – Pancur, menaiki sepeda motor menuju kesana adalah pilihan yang tepat karena saya bisa berwisata mata memandangi hamparan sawah yang selalu saya kangeni ketika saya berada di Jakarta. Di tepi jalan desa beraspal jurusan Lasem-Pandan, disitulah berjajar penjual lontong tuyuhan.

Sekitar lima belas penjaja lontong tuyuhan ada disini, berderet rapi, ada yang ramai didatangi, ada pula yang kosong. Mas Agus mengatakan pada saya, rasa lontongnya mungkin sama, tapi tidak semua penjual memiliki daging ayam yang empuk. Saya masuk ke dalam warung lontong tuyuhan “Pak Likin”. Pak Likin, menawarkan potongan ayam kampung opor dengan istilah sempol yang berarti paha bawah, mentok yang berarti dada dan rongkong untuk leher. Sebuah bahasa yang terlahir sejak beberapa dekade ketika lontong tuyuhan menjadi terkenal di wilayah pesisir ini.

Lontong berbungkus daun pisang dengan bentuk kerucut segitiga dipotong-potong dan kemudian disiram dengan air opor ditambahkan sempol dan tempe bacem kesukaan saya. Sekilas mencoba, rasanya mirip dengan buatan ibu saya tapi lontong ini lebih gurih dan terasa lebih pedas. ya, itulah rasa khas lontong ini, gurih dan pedas.

Cara memasak opor ayam tuyuhan ini sama dengan memasak opor ayam umumnya. Tapi, pembuat lontong ini bisanya menambahkan cabai merah yang ditumis sampai layu dan jahe. Salam dan serai pun ditambahkan sebagai peningkat aroma. Dari sekian banyak daerah di Lasem, daerah tuyuhan memang terkenal ahli memasak lontong ini, kabarnya karena lontong ini akan terasa enak jika dimasak dengan air desa Tuyuhan.

Penasaran? Jika Anda berkunjung ke Lasem untuk melihat indahnya batik Lasem, sempatkan lidah Anda untuk mencicipinya. Warung-warung ini rata-rata buka sejak pukul 12.00 sampai pukul 16.00, harganya pun sangat murah, hanya belasan ribu rupiah saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s